Mencari Keadilan untuk Warga yang Dibakar Hidup-hidup. Dimana dia Sekarang ???



LINTAS FAKTA - Beredar meme yang mempertanyakan kebaredaan Bapak Natalius Pigai  tentang peran dia dalam menanggapi kasus warga yang dibakar hidup-hidup di Bekasi beberapa waktu lalu,


Seperti yang kita ketahui Bapak Natalius Pigai, cukup aktif menyuarakan pembelaan “Hak asasi manusia” tentang kasus-kasus diantaranya adalah agar menghentikan proses hukum terhadap beberapa ulama dan tokoh ormas yang tergabung dalam Presidum Alumni 212.

Bahkan Pigai meminta urusan ini untuk di intervensi oleh Presiden.

“Kami menghormati proses hukum yang ada di Kepolisian, tapi kami meminta presiden menghentikan proses hukum di kepolisian,” ujar Pigai saat ditemui usai pertemuan.

Tulisan ini tidak dibuat untuk menghina, atau mengejek bentuk fisik dsb, dan saya juga menghimbau para pembaca untuk tidak menghina dirinya. Tapi opini ini dibuat sebagai bentuk kritis terhadap sikap yang seharusnya ia lakukan terhadap segala macam hal yang terjadi yang erat kaitannya dengan perlindungan Hak asasi manusia.

Mempertanyakan kemana dirinya?

Beberapa waktu lalu. Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai mengaku profesional dalam upaya mengusut dugaan kriminalisasi terhadap Habib Rizieq Shihab.

“Kalau sudah digaji oleh negara, jangan milih-milih, jangan suka, jangan tidak suka,” paparnya.

Dia menjelaskan, setiap Komisioner Komnas HAM wajib melayani setiap warga negara yang melapor, termasuk Habib Rizieq.

Pigai justru menilai Komisioner Komnas HAM yang menolak menindaklanjuti laporan Habib Rizieq memiliki niat jahat sebagai penyelenggara pemerintah.

“Menjadi tidak adil jika Habib Rizieq tidak dilayani Komnas HAM. Justru komisioner yang menolak Habib Rizieq itu adalah orang-orang yang tidak adil, tidak menjalankan tugas secara profesional,” ungkapnya.

Kalau saat dulu Pigai kerap menyuarakan untuk Hak asasi manusia yang dimiliki oleh Rizieq, atau juga  terkait laporan dugaan kriminalisasi ulama alumni 212 dan rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kemana dirinya saat ini? Mengapa tidak ada di media?

Berbeda dengan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Yang Telah Bersuara

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Imdadun Rahmat prihatin dengan aksi pembakaran hingga tewas terduga maling di Bekasi. Imdadun mengecam pelaku pembakaran sebagai pelanggar HAM.


Imdadun mengatakan, aksi main hakim sendiri warga merupakan tindakan kejam. Menurutnya, pelaku harus dihukum lewat peradilan walau seberat apapun kejahatannya.

“Mau itu hukumannya denda, penjara atau hukuman mati sekalipun, itu semuanya harus melalui proses pengadilan,” ujar Imdadun di Kantor GP Ansor,  Jakarta Pusat, Jumat 4 Agustus 2017.

Bagi Komnas HAM, vonis pelaku kejahatan di pengadilan merupakan upaya pemberian hukum yang setimpal. Tindakan pembakaran tersebut mesti diusut tuntas jajaran kepolisian lantaran telah melanggar perikemanusiaan.

“Nah ini kan main hakim sendiri. Apa pantas orang menyuri amplifier kemudian dihukum mati? Itu tidak adil,” ucapnya.


Setiap warga negara wajib menjunjung tinggi dalam penghormatan terhadap hukum. Pemerintah perlu hadir dalam situasi ini. Selain mengusut pelaku pembakaran, keluarga korban yang ditinggalkan juga perlu mendapat perhatian penuh.

Kemana Bapak Natalius Pigai?

Apa karena merasa sudah diwakilkan lantas tidak bersuara di media? Kalau memang benar, seharusnya tidak seperti itu, karena sikap bapak membela Rizieq, 212, dan HTI akan dinilai sebagai perbuatan sepihak yang tentunya bapak hanya mempunyai kepentingan urusan dengan mereka saja. Tidak dengan seluruh elemen masyarakat yang ada di Indonesia.

Kepentingannya tidak lain hanya untuk mencari keadilan Rizieq, yang sifatnya juga politis sedangkan bapak tidak membantu rakyat kecil seperti Pria malang yang dibakar hidup-hidup oleh sebagian oknum warga radikal yang main hakim sendiri.

Sedikit mengkutip pernyataan dari Bapak Natalius Pigai sendiri “Kalau sudah digaji oleh negara, jangan milih-milih, jangan suka, jangan tidak suka,”

Jangan suka, atau tidak suka mengambil sebuah kasus, atau bersuara demi membela orang yang sedang butuh “Keadilan” disini. Dinilai dari perkataan bapak tersebut, maka bisa dianggap disini bapak cukup tidak konsisten dengan perkataan sendiri, dimana keluarga di Bekasi ini masih mencari keadilan.

Peran bapak sangat diperlukan untuk menunjukan bahwa bapak tidak milih-milih sebuah kasus.

Sumber :





0 Response to "Mencari Keadilan untuk Warga yang Dibakar Hidup-hidup. Dimana dia Sekarang ???"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus