Jokowi Bekerja Sama Dengan Anggota Penangan Gempa Aceh 2016


LINTAS FAKTA
- Presiden Joko Widodo yang saat terjadi gempa Pidie Jaya sedang berada di Bali langsung mengutus Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki terjun langsung menuju Aceh untuk penanganan gempa Pidie Jaya. Presiden juga mengutuskan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dan seluruh jajaran pemerintah untuk mambantu penanggulangan setelah gempa.

Jokowi ingin jajarannya terus memantau dan melaporkan perkembangan setiap jam kondisi setelah gempa di Pidie, Aceh. Gempa bumi mengguncang Pidie Jaya pada Rabu, 7 Desember 2016 silam.   Gempa yang berkekuatan 6,5 skala richter telah memberi dampak hancur dalam sekejap.

Kejadian tersebut terjadi sebelum subuh, ketika warga sedang terlelap tidur, dan berlangsung dalam hitungan detik.  Tidak ada waktu untuk menyadarkan pikiran tentang apa sedang terjadi, apalagi untuk menyelamatkan diri.

Lampu padam. Saya terbangun dengan posisi terhimpit dengan lemari yang masih tertopang dengan sisi pinggir ranjang. Isi lemari berhamburan keluar, semua menjadi porak-poranda. Setelah berhasil melepaskan diri dari himpitan lemari, dalam kegelapan saya meraba-raba mencari keberadaan istri, ternyata dia tidak berada di samping saya.

Dengan hanya bantuan cahaya dari  handphone saya keluar kamar, dan menjumpai kedua anak dan istri saya yang sudah berada di ruangan sebelah. Saya menggendong anak pertama dan istri saya menggendong anak kedua, lalu bergegas keluar rumah.

Tidak ada kata-kata yang terucap dari kami, pikiran saya begitu kacau. Warga mulai berbondong-bondong menuju mushola/surau, tempat umum dimana warga biasa berkumpul melakukan kegiatan keagamaan.

Dalam keremangan subuh samar-samar terlihat bangunan meunasah/surau tersebut sudah miring dan tidak bisa digunakan lagi, warga hanya berkumpul di sekitar halaman dan jalan sambil saling menenangkan diri, dan tetap bersiaga untuk menyelamatkan diri apabila hal lebih buruk terjadi, seperti tsunami.

Terdengar percakapan warga yang berkumpul saling berbicara mengabarkan kondisi masing-masing; ada yang terluka tertimpa bangunan yang rubuh dan rumah-rumah yang rusak. Saat itu, saya belum mampu berkata-kata, saya hanya bisa saling memandang istri dan anak-anak.

Saya memeluk anak-anak untuk menyembunyikan ketakutan yang baru saja terlewati, dan meyakinkan mereka akan baik-baik saja.  Sambil terus mendekap, tiba-tiba anak saya berkata, “Ayah, besok Adek gak bisa sekolah ya!” Saya menanggapi perkataannya hanya sekadar saja untuk menenangkan. Saya mengganggap hal itu hanya sebagai kekhawatiran biasa anak-anak.


Ketika pagi mulai terang, saya baru menyadari, ternyata anak saya sempat memperhatikan sekolahnya yang tidak jauh dari meunasah, ikut ambruk rata dengan tanah. Anak saya yang baru berusia enam tahun memang baru duduk di kelas satu sekolah dasar; SDN Peulandok Tunong, Kec. Trienggadeng, Pidie Jaya.

Sekolah dasar tersebut yang kemudian hari sempat dikunjungi oleh Bapak Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kali ke dua ke Aceh untuk melihat langsung penanganan gempa Pidie Jaya dan melakukan rapat terbatas menteri terkait penanganan korban bencana gempa Aceh didepan mushola/surau kampung kami.

Pada saat itu pula saya berjumpa dan berbincang sejenak dengan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki tentang perkembangan kondisi korban/pengungsi gempa Aceh. Laporan dampak kerusakan dan korban jiwa memang begitu cepat tersebar, baik melalui berita televisi, maupun melalui sosial media.

Presiden Jokowi pun mendapatkan konfirmasi langsung dari Bupati Pidie Jaya Aiyub Abbas dan Pelaksana Tugas Gubernur Soedarmo tentang laporan setelah terjadi gempa. Beberapa jam setelah mendapat laporan, Jokowi langsung menggelar rapat terbatas dengan para menteri dan aparat terkait untuk membahas perihal penanganan setelah gempa. Sementara itu, Gubernur Aceh menetapkan Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, mulai 7 Desember—20 Desember 2016.

Penetapan Tanggap Darurat ini diperlukan untuk memudahkan penanganan darurat dan kemudahan akses penggunaan sumber daya yang ada dalam menangani setelah terjadinya bencana gempa.

Presiden memerintahkan seluruh aparat bergerak melakukan pencarian dan evakuasi korban gempa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB) dibantu TNI, Polri, dan dinas-dinas terkait bergerak cepat dalam melakukan pencarian korban yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan dan pembersihan sisa-sisa bangunan roboh selama tanggap darurat.

Alat-alat berat dikerahkan untuk membantu pencarian korban, bantuan medis dan obat-obatan juga dikirimkan, serta mengirimkan bantuan-bantuan kebutuhan pengungsian. Pada hari setelah gempa, saya mencoba memastikan sendiri dampak kerusakan sambil mengumpulkan data dengan berkeliling sampai ke pelosok kampung-kampung. Hampir seluruh warga Pidie Jaya mendirikan tenda-tenda sementara di halaman rumah mereka, atau mengungsi ke meunasah/surau dan mesjid.

Mereka membuat tempat pengungsian dan dapur umum secara mandiri masyarakat setempat. Gempa susulan terus terjadi, hingga mambuat warga semakin ketakutan untuk menginap di rumah masing-masing. Selain di Pidie Jaya, efek gempa juga berdampak di Kabupaten Bireun dan Pidie yang kedua kebupaten tersebut bertetangga dengan Pidie Jaya.

Menurut laporan BNPB hingga 9 Desember 2016, mencatat 11.730 rumah rusak, 105 unit toko roboh, 14 masjid rusak berat, satu rumah sakit dan 65 sekolah rusak berat, serta kerusakan pada prasarana jalan dan jembatan. Korban jiwa, setidaknya ada 104 orang yang meninggal dunia, 134 luka berat, 532 luka ringan, dan sebagian besar warga Pidie Jaya tinggal di pengungsian.

Hari kedua relawan-relawan dari berbagai daerah, kelompok dan komunitas terus berdatangan. Posko-posko relawan didirikan di pinggir-pinggir jalan. Mereka ikut menyalurkan bantuan-bantuan logistik  ke tempat-tempat pangungsian. Para relawan juga ikut membatu pencarian dan mengevakuasi korban yang masih tertimbun di reruntuhan bangunan.

Melalui grup media sosial, saya mencoba membangun komunikasi dengan relawan nasional yang terus berdatangan untuk menginformasikan pelosok-pelosok kampung yang belum tersentuh penyaluran bantuan. Saya juga saling melakukan komunikasi dengan beberapa staf dari Kantor Staf Kepresidenan guna mengonfirmasikan informasi yang diterima tentang perkembangan kondisi korban/pengungsi  dan pemetaan lokasi yang membutuhkan penanganan cepat sampai dengan saat ini.

Tidak menunggu lama, dua hari setelah gempa pada Jumat 9 Desember, Presiden Jokowi juga  berkunjung ke Pidie Jaya untuk melihat sendiri kondisi setelah gempa. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi menjenguk korban yang dirawat di RSUD Sigli, dia ingin memastikan secara langsung proses penanganan korban berjalan dengan baik. Penanganan setelah gempa menjadi prioritas  baginya yang harus segera diselesaikan.

Kedatangan Jokowi memberi semangat dan dukungan moral secara langsung bagi para korban dan relawan. Dalam waktu tiga hari pancarian dan evakuasi korban dari reruntuhan selesai dilakukan.

Belum sampai seminggu kunjungan pertama, pada 15 Desember 2016, Presiden Jokowi kembali singgah di Aceh dalam perjalanan pulang ke tanah air setelah selesai kunjungan resmi di India dan Iran. Ini menjadi kunjungannya yang kedua untuk meninjau langsung penanganan setelah gempa Pidie Jaya, Aceh.

Kunjungan kedua ini menjadi petanda bagi Pemerintahan Presiden Jokowi dalam menangani bencana gempa Pidie Jaya, bukan hanya sekedar kunjungan seremonial sebagai tanggung jawab moral kepemimpinan, tetapi menjadi bukti keseriusan Pemerintah Pusat dalam hal kemanusiaan.


Pada kunjungan keduanya ini, Presiden Jokowi ingin memastikan apakah penanganan dan pembersihan sisa bangunan benar-benar dilakukan dengan cepat; memastikan apakah bantuan logistik dan bahan pangan sudah disalurkan untuk korban gempa yang mengungsi. Pada kesempatan kedua ini, Jokowi menyempatkan diri meninjau langsung kondisi beberapa tempat pangungsian dan sekolah yang rubuh.

Pada kesempatan tersebut, beliau menyempatkan diri berkomunikasi langsung anak-anak yang menjadi korban gempa. Kedatangan Jokowi menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak  yang sudah menunggu di pengungsian.

Tampak kecerian di wajah anak-anak ketika bisa melihat dan berbicara langsung dengan Bapak Presiden Jokowi, ini menjadi semacam trauma healing secara tidak langsung bagi anak-anak. Pada kesempatan tersebut tidak lupa membagikan buku bagi anak-anak korban gempa.

Jokowi tidak ingin pendidikan setelah gempa terganggu dan berhenti. Beliau menginginkan segera dibangun sekolah-sekolah darurat semntara bisa digunakan untuk aktivitas belajar setelah liburan sekolah semester. Untuk penanganan hal tersebut, Mendikbud Muhajir Effendy telah tiga kali berkunjung ke Aceh setelah gempa.

Sepulang dari kunjungan gempa, Jumat 16 Desember, Presiden kembali melakukan rapat terbatas penanganan gempa Aceh bersama jajaran kementerian di kantor Presiden, Jakarta.

Saat ini telah dikeluarkan Instruksi Presiden(Inpres) Nomor 5, Tahun 2017 tentang percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Bireun. Untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut, Jokowi akan menyiapkan anggaran sebanyak Rp 3,456 triliun, dan diharapkan akan selesai pada akhir tahun 2018.

Dua minggu setelah tanggap darurat, warga yang tinggal di pengungsian secara berangsur kembali ke rumah masing-masing. Bagi korban gempa yang rumahnya roboh telah disediakan rumah sementara layak huni.

Dan, anak saya bisa kembali ke sekolah dengan buku yang diterima dari Bapak Presiden Jokowi. Saya pun melihat kembali keceriaan pada wajah anak-anak saya yang sempat hilang beberapa minggu setelah gempa.



0 Response to "Jokowi Bekerja Sama Dengan Anggota Penangan Gempa Aceh 2016"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus