Astaghfirullah,,, Membakar Seorang Muslim di Bekasi Hanyalah Konsekuensi



LINTAS FAKTA
- Kemarin ada sebuah kejadian sedih dan memilukan, sebuah cerita kelam tentang sejarah perjalanan Indonesia. Di Bekasi, MA seorang warga muslim dikeroyok warga setelah diteriaki maling, kemudian dibakar hidup-hidup karena diduga mencuri amplifier milik mushala.

MA akhirnya meninggal dunia di jalanan, meninggalkan istri dengan seorang anak dan satu janin berusia enam bulan. MA sepertinya masih muda, sebab istrinya baru berusia 25 tahun. Saya juga meyakini MA adalah seorang muslim, sebab istrinya berkerudung.

Sebagai sesama manusia, jujur sulit sekali menerima kenyataan ini. kita hidup di zaman modern, dimana pendidikan sudah jauh lebih terjangkau. Etika dan naluri kita sebagai manusia seharusnya jauh lebih baik dari jaman firaun. Tapi kenapa hari ini ternyata masih ada kejadian main hakim sendiri, yang hanya karena kesalahan dari sifat manusiawi, kemudian dikeroyok dan dibakar hidup-hidup?

Sebenarnya, saya sudah merinding saat melihat video anak-anak kecil yang bernyanyi “bunuh, bunuh, bunuh si Ahok, bunuh si Ahok sekarang juga.” Mengerikan sekali. Bagaimana mungkin ada sekelompok anak kecil yang masih seusia anak-anak sekolah dasar, menyanyikan lagu kebencian dan mengajak untuk membunuh sesama manusia? Siapa yang mengajari mereka? ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Dan aparat penegak hukum kita sepertinya tak ada yang punya inisiatif untuk meringkus orang yang mengajari lagu mengajak membunuh seperti itu. Padahal menurut saya ini adalah ancaman yang sangat serius untuk masa depan bangsa ini. Mau jadi apa mereka kalau saat kecil sudah bernyanyi mengajak membunuh orang lain?

Beberapa bulan yang lalu juga, sempat ada demo aksi bela Islam katanya. Dalam demo tersebut, jelas terpampang spanduk “gantung Ahok di sini” di salah satu jembatan Jakarta. Lebih dari itu, Habib Rizieq, sang pimpinan demo juga secara terbuka mengancam akan membunuh Ahok jika Polisi tidak segera menangkap Ahok.

Kemudian, tahun 2014 lalu pernah juga ada demo menolak pemimpi kafir. Hal ini terjadi karena Jokowi yang terpilih sebagai Gubernur Jakarta pada 2012, naik sebagai Presiden. Sehingga secara otomatis posisinya digantikan oleh Ahok. Dalam aksi penuh takbir “Allahuakbar” tersebut, massa sempat melakukan simulasi menusuk jantung Ahok hingga berdarah, kemudian membakarnya di tengah jalan. Mengerikan!

Tiga tahun yang lalu, ada aksi membakar boneka Ahok di tengah jalan. Dan hari ini, ada seorang manusia hidup, juga dibakar di jalanan. Apakah ini hanya sebuah kebetulan?

Begini. Kita mungkin sudah pernah mendengar ada aksi main hakim sendiri terhadap maling di kampung-kampung, di daerah pedalaman dan wilayah terluar Indonesia. Kita mungkin sudah pernah mendengar cerita pembunuhan yang dilakukan karena beberapa masalah. Tetapi mengeroyok dan membakar hidup-hidup seorang manusia di Bekasi, di tempat umum, di daerah terdekat dengan pusat peradaban Indonesia, ini sesuatu yang sangat tidak lazim. Pasti ada yang salah dengan pola pikir masyarakat dan mental warga Bekasi. Pasti!

Dan dengan ini, saya beranggapan bahwa membakar manusia hidup-hidup hanyalah konsekuensi logis, dampak, efek ataupun akibat dari doktrin radikal yang selama ini sudah dipertontonkan secara terbuka oleh sekelompok ormas.

Sehingga seharusnya ke depan kita jadi lebih peka dan responsif dengan aksi-aksi ujaran kebencian dan mengajak orang pada pembunuhan. Tiga tahun lalu mereka membakar boneka di jalan Jakarta, hari ini ada seorang manusia dibakar hidup-hidup di wilayah yang dekat dengan Jakarta. Lalu kalau beberapa bulan lalu ada sekelompok anak kecil yang bernyanyi mengajak membunuh seorang manusia, kalau tidak dicegah dan ditindak, beberapa tahun lagi mereka mungkin akan benar-benar membunuh orang.

Membela Tuhan dengan cara-cara setan

MA memang bersalah, katakanlah dia maling di mushalla, tapi apakah kemudian orang lain secara otomatis memiliki hak untuk membakarnya hidup-hidup? Menurut saya tidak.

Tetapi saya coba memahami maksud dan tujuan mereka melakukan pembakaran di tempat umum dan tak ada yang berani melarangnya. Saya pikir karena MA mencuri di mushalla. Sementara mushalla adalah tempat ibadah umat muslim, tempat suci, rumah Tuhan. Sehingga menangkap maling mushalla adalah sesuatu yang dianggap dapat mendatangkan pahala besar bonus surga. Mereka menganggap dirinya sedang membela Tuhan, membela Islam, menyelamatkan mushalla dari pencurian.

Hal serupa juga pernah terjadi di Jakarta, meskipun korbannya hanyalah boneka Ahok, karena Ahok yang asli penuh pengawalan dan pengamanan. Jadi kalaupun ada kakek-kakek yang membuat sayembara terbuka untuk penggal leher Ahok berhadiah uang milyaran rupiah, pada akhirnya mereka gagal melakukannya.

Bagaimanapun Ahok bukan pencuri, bukan koruptor, namun kesalahannya (bagi sebagian orang) memunculkan anggapan yang sama dengan yang terjadi pada MA. Ahok dianggap menistakan agama Islam, sehingga sekelompok orang berniat membela Tuhan, membela Islam dan menyelamatkan Alquran dari penistaan.

Saat mereka membakar boneka Ahok atau membakar MA hidup-hidup, mereka menganggap punya hak untuk itu. Karena mereka sedang menyelamatkan mushalla, mereka sedang membela Islam.


Tapi jika ada teman-teman pembaca Seword yang bertanya mengapa terjadi aksi yang berlebihan seperti itu? Jawabannya adalah karena sebagian orang tidak belajar agama Islam dengan tahapan yang benar. Sehingga yang terjadi adalah pondasi yang belum kuat, tapi sudah mendengar seruan-seruan jihad dan doktrin fanatik keagamaan.

Padahal sebelum seorang muslim belajar tentang jihad, mengerti tentang nahi mungkar dan fanatik dalam beragama, mereka harus lebih dulu mengerti jati dirinya sebagai manusia, sebagai hamba dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang satu.

Lalu kenapa mereka tidak lebih dulu belajar tentang itu? Ya karena ustad atau habibnya tidak membahas itu. Entah karena tidak ustadnya juga tidak tau atau karena memang tidak bisa menarik emosi untuk bisa berteriak “Allahuakbar” bersama-sama. Jadi tidak dibahas.

Harus kita akui, ustad-ustad di Indonesia banyak yang oportunis. Mereka berceramah tentang materi yang orang suka. Di hadapan anak-anak muda, mereka bicara cinta. Di hadapan orang-orang miskin, mereka bicara sedekah sedekah sedekah agar diganti 10 kali lipat. Sehingga kalau ditelusuri lebih dalam, ada banyak permasalahan yang harus segera diselesaikan oleh kita bersama. Dan itu semua bisa dimulai dengan belajar agama pada kyai di Pesantren, bukan pada orang yang sering nampang di televisi atau sosial media. Belajar membaca kitab-kitab karya para ulama terdahulu, bukan baca tweet atau status facebook muallaf.


0 Response to "Astaghfirullah,,, Membakar Seorang Muslim di Bekasi Hanyalah Konsekuensi"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus