Anak Petani Jaya di TNI, Motivasi Untuk Kita Semua


LINTAS FAKTA
- Selama ini petani sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Hal ini tidak lepas dari mental peninggalan  zaman kerajaan dahulu. Sebagaimana kita ketahui bahwa di Indonesia ini pernah berjaya kerajaan Hindu, seperti kerjaan kutai, Kediri, Singosari dan Majapahit.

Dalam kepercayaan Hindu ada sistem pembagian masyarakat yang disebut dengan kasta. Pembagian manusia dalam masyarakat ini yang kemudian menempatkan petani ke dalam kasta yang rendah atau kasta Waisyah. Satu tingkat di atas kasta Sudra atau golongan pelayan.

Kasta tertinggi adalah Brahmana, yaitu golongan yang mengabdikan dirinya ke dalam bidang urusan spiritual atau agama seperti pandita atau rohaniwan. Kemudian kasta ksatria yang menyangkut para kepala pemerintahan, anggota lembaga pemerintahan dan prajurit.

Penempatan kasta-kasta ini sebenarnya sudah tidak berlaku lagi di masyarakat Indonesia. Apalagi banyak yang menganut agama selain hindu, seperti islam dan Kristen. Dalam Islam tidak mengenal sistem kasta. Manusia dianggap setara atau egaliter.

Walaupun zaman sudah maju, soal kasta ini masih sering terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Seperti masyarakat berbondong-bondong ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil atau PNS. Sampai-sampai perekrutan PNS dimanfaatkan oleh oknum untuk menerima sogokan dari peserta CPNS. Karena profesi PNS ini di masyarakat dianggap terhormat, seperti kasta tadi, bahwa PNS atau pegawai pemerintah masuk dalam kasta tinggi.

Namun bicara soal prestasi tak mengenal kasta. Prestasi adalah hak semua orang. Orang yang dianggap rendah sekalipun punya hak untuk berprestasi. Bahkan banyak orang yang berhasil berasal dari dari keluarga miskin atau kurang mampu.

Siapa yang bekerja keras, dia yang akan berhasil, tak peduli apapun kastanya. Sehingga tidak ada alasan untuk minder dan tidak bercita-cita. Dan tidak ada alasan untuk menganggap remeh orang lain, karena masa depan orang siapa yang tahu.

Baru-baru ini kita menyaksikan dua orang anak petani meraih Adhi Makayasa Akademi TNI sebagai lulusan terbaik. Penghargaan ini diberikan pada taruna taruni dari setiap angkatan di akademi TNI dan Polri.


Kedua orang ini adalah Samsul Huda dan Yoga Kristian. Samsul Huda merupakan perwira lulusan Akademi Angkatan Laut. Putera dari bapak Selamet dan ibu Srikanah, warga desa Sidodowo, Kabupaten Lamongan Jawa Timur yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Samsul Huda juga sebelumnya pernah gagal masuk anggota TNI. Namun tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Dia berjuang lebih keras lagi, hingga berhasil masuk Akademi Angkatan Laut dan prestasinya mampu melampaui kawan-kawannya sesama taruna yang lain.

Samsul Huda juga anak yang berbakti kepada orang tua. Dia sering membantu bapaknya mencari rumput untuk pakan ternak dan membantu orang tuanya di ladang. Sedangkan menjadi prajurit TNI merupakan cita-citanya sejak kecil.

Mungkin ini juga yang turut mengantarkan keberhasilannya, yaitu berbakti kepada orang tua dan menggantungkan cita-cita 5 cm di depan kening atau di pikiran, agar selalu semangat menjalani hari esok lebih baik lagi dan cita-cita segera terwujud, seperti filmnya 5 cm.

Kemudian Bernardinus Yoga Kristian, perwira Akademi Angakan Udara terbaik yang merupakan anak dari pasangan bapak Yuninto dan ibu Chatarina Suharyanti yang sehari-hari berprofesi sebagai petani. Warga desa Sumbermulyo Bambang Liporo, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I Yogyakarta.

Penghargaan ini diberikan oleh Presiden Jokowi pada saat pelantikan 729 Prasetya Perwira TNI dan Polri di halaman Istana Meredeka pada hari Selasa (25/7) kemaren. Dalam sambutannya presiden meminta agar TNI dan Polri menjaga soliditas dan solidaritas dalam menjaga kemananan dan kedaulatan NKRI.

TNI berperan strategis bagi NKRI. Prajurit TNI bertugas menjaga kemanan dan kedaulatan NKRI dari ancaman asing dan dalam negeri. Sehingga menjadi prajurit TNI adalah pekerjaan yang mulia.

Tidak mudah untuk bisa menjadi prajurit TNI, karena harus melewati proses seleksi yang ketat. Banyak yang berguguran dalam tahap seleksi. Prajurit TNI adalah orang-orang pilihan dan Samsul Huda dan Bernardinus Yoga Kristian adalah prajurit terbaik diantara yang terbaik.

Keberhasilan kedua orang anak petani ini bukan hanya milik mereka dan keluarga mereka, tapi untuk segenap bangsa Indonesia. Kita dapat belajar dari mereka bahwa sukses itu soal kerja keras  dan kesungguhan, bukan soal latar belakang. Siapa yang bekerja keras dan sungguh –sunggh meraih cita-cita dia akan sukses. Tak peduli anak petani atau anak brahmana. Sukses adalah hak semua orang.




0 Response to "Anak Petani Jaya di TNI, Motivasi Untuk Kita Semua"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus