Khotbah Diisi Caci Maki, Sudah Saatnya Menteri Agama Lapis Dengan Standardisasi


LINTAS FAKTA - Insiden memalukan yang terjadi pada saat Salat Idul Fitri 1438 Hijriyah di Alun-alun Wonosari pada hari Minggu pagi 25 Juni 2017 dimana Jemaah secara spontan membubarkan diri saat sang khotib, Ikhsan Nuriansyah Bajuri, menyampaikan khotbahnya yang penuh dengan ujaran kebencian terhadap Ahok, sudah selayaknya menjadi tugas dan PR bagi pemerintah untuk segera merealisasikan standarisasi materi khotbah yang disampaikan dihadapan khalayak.

Dengan adanya standarisasi dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, maka materi khotbah yang disampaikan kepada umat tidak lagi menyimpang, tidak memprovokasi, dan tidak menyebarkan kebencian karena agama adalah kebaikan dan kedamaian, bukan ranah kejahatan terselubung untuk menyuntik morphin psikologis berupa provokasi terselubung kepada umat Islam untuk membenci kaum tertentu.

Kalau saya tidak salah dulu pada saat Pilkada DKI, pernah ada wacana dari Kementerian Agama untuk melakukan sertifikasi kompetensi terhadap para ulama, khotib, namun gaung itu tidak pernah terdengar lagi seiring dengan usainya pilkada DKI.

Sebagai informasi, sertifikasi kompetensi adalah suatu bentuk pengakuan yang disematkan kepada profesi tertentu dalam bentuk sertifikat Kompetensi yang telah diakui oleh Badan Nasional Sertifikasi Indonesia (BNSP), contohnya seritifikasi guru, sertifikasi koki, penjahit, dan profesi-profesi lainnya.

Dengan adanya sertifikasi kompetensi untuk para khotib, maka materi khotbah sudah barang tentu secara otomatis akan terstruktur dengan baik dan sesuai dengan kaidah-kaidah dan koridor norma yang berlaku dalam ajaran Islam pada umumnya.

Adalah hak yang sangat riskan bagi pertumbuhan iman para jemaah jika sang khotib justru tidak memahami arti kedamaian yang sesungguhnya sehingga justru menebarkan kebencian terhadap golongan tertentu yang dibalut dengan ayat-ayat dalam kitab suci Al-Quran dengan tujuan untuk meracuni alam bawah sadar umat beragama di negeri ini.


Daya tangkap dan daya serap tiap orang itu berbeda satu sama lainnya, itulah sebabnya kenapa kelompok teroris tumbuh subur, ya karena salah satu penyebabnya adalah asupan doktrin kebencian yang ditanamkan oleh para pemimpin agama.

Contoh kecil, lihat saja kelakuan ormas FPI yang identik dengan kekerasan dan anarkisme karena asupan doktrin dari Imam Besar mereka yang cenderung menghalalkan kekerasan dengan dalih jihad terhadap golongan lain yang tidak sepaham dan tidak sejalan dengan mereka.

Kalau dalam ajaran Kristiani, lebih baik batu kilangan diikatkan ke leher mereka dan dibuang ke laut karena betapa bahayanya jika salah tebar doktrin yang meracuni iman umat.

Apalagi menyampaikan khotbah dihadapan orang banyak, betapa besar resikonya jika pemahaman sang khotib terhadap ajaran agama sudah salah kaprah. Khotib adalah profesi yang mulia. Tugas utama mereka adalah memberi pesan kepada umat untuk meningkatkan kadar keimanan, taat beribadah, mengikuti perintah Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, tidak mencela, tidak mencaci maki orang lain.

Pertanyaannya, bagaimana kalau para khotib tidak melakukan hal itu? Silahkan Anda jawab sendiri, namun yang pasti tentu saja bahaya besar mengancam bagi negara ini kedepannya.

Sudah saatnya pemerintah ikut masuk dan mengambil peran untuk ikut menjamin kualitas mutu khotbah yang disampaikan oleh para khotib agar materi khotbah tidak diisi dengan hal yang tidak baik dengan saling mencela, mencaci maki, menebar permusuhan dan saling menyalahkan.

Saat ini bangsa kita dalam kondisi darurat doktrin agama. Begitu banyak anak bangsa yang telah tersesat di jalan yang salah dengan menjadi teroris dan menjadi mesin pembunuh terhadap aparat negara yang sedang menjalankan tugas. Dari mana penyebab semua itu? Ya tentu saja dari salah asupan akan materi khotbah yang salah kaprah serta pemahaman Jihad yang ngaco.

Kualitas mutu khotbah harus ditata agar ceramah yang disampaikan tidak diisi dengan doktrin yang menyesatkan dengan menebarkan permusuhan dan mencela pihak lain.

Betapa degilnya kebencian yang sengaja terus diumbar untuk merusak pilar-pilar persaudaraan, bahkan di hari yang mestinya saling memaafkan masih sempat-sempatnya menebar kebencian atas kasus yang sudah selesai dan sudah basi.

Dengan aksi walk out-nya para jemaah pada saat Salat Idul Fitri 1438 Hijriyah di Alun-alun Wonosari, Ahok telah berhasil menjadi martir bagi bangsa ini untuk sebuah kesadaran akan kebangsaan dan kebhinekaan. Sebuah luka juang yang ditelan dengan air mata bathin yang tak pernah padam dan tak lekang oleh waktu. NKRI harga mati.



0 Response to "Khotbah Diisi Caci Maki, Sudah Saatnya Menteri Agama Lapis Dengan Standardisasi"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus