Habib Rizieq Pulang Indonesia: Mengakhiri Pengadilan Media dan Memulai Babak Baru Pengadilan Hukum


LINTAS FAKTA
- Habib Rizieq Pulang Indonesia: Mengakhiri Pengadilan Media dan Memulai Babak Baru Pengadilan Hukum – Saya selalu diceritakan oleh seorang mantan frater. Frater adalah seseorang (pria) yang sedang menempuh pendidikan calon imam Katholik. Ia mengisahkan seorang mendiang Uskup Sintang, Mgr. Darius Nggawa. Uskup ini selalu berpesan kepada para frater untuk selalu waspada terhadap sesuatu yang disebutnya “benda bodoh” (merujuk pada organ kelelakian).

Sang uskup mewanti-wanti bahwa gelar pendidikan boleh tinggi, tetapi manusia mudah jatuh dalam “dosa adam dan hawa”. Seorang pastor boleh doktor, belajar filasafat dan teologi, belajar moral dan segala macam ilmunya, tapi mereka mudah saja jatuh dalam “ujian taman firdaus” – ketika Ada dan Hawa jatuh dalam dosa perdana. Mereka yang belajar ilmu agama dan berbagai dogma saja bisa jatuh, apalagi seorang frater yang baru menapaki pendidikan ataupun kita masyarakat awam?

Peringatan Mgr. Darius tidak saja ditujukan untuk para frater atau imam tapi pesan itu disampaikan untuk kita semua. Bahwasannya kita sangat dekat dengan dosa dan mudah jatuh dalam dosa. Bahkan antara sesuatu yang dosa dan tidak hanya dibatasi oleh garis selebar kulit ari saja.

Dalam sejarah perjalanan gereja khususnya atau tokoh-tokoh dunia tidak lepas dari kelemahan manusiawinya ini. Para paus, uskup, imam, tokoh politik, dan seterusnya bukan tidak pernah jatuh dalam dosa yang namanya “skandal asmara” itu. Inilah catatan hitam mereka yang mengalami,  menjadi menjadi catatan hitam kita pula sekaligus menjadi tanda peringatan bahwa manusia, sekali lagi, manusia, sangat rentan jatuh dalam dosa ini.

Untuk itu perlu sikap keberanian dalam diri kita manusia. Keberanian untuk mengakui ini dan menghindari dari kejatuhan dosa ini pula. Namun, karena dasarnya kita manusia, lebih takut malu daripada Tuhan, malah menyembunyikan sedemikian rupa.

Kisah percintaan Habieb Rizieq (HR)-Firsa bisa jadi sebuah tuduhan yang tidak benar. Apalagi tuduhan atau endusan itu hanya berdasar pada “chat whatsapp” yang mungkin saja dipalsukan atau direkayasa oleh pihak tertentu untuk tujuan tertentu.

Dugaan rekayasa ini sangat mungkin terjadi karena mengingat sosok seorang HR. Ia adalah seorang tokoh agama, tokoh ormas dan orang yang selalu menyerukan kebenaran. Dalam tanda petik, ia telah mengambil peran “kenabian” modern – karena setiap tutur dan katanya selalu menjadi panutan pengikutnya. Dalam kacamata penulis,  tuduhan “chat mesum” itu sangat mungkin digunakan sebagai senjata untuk melorotkan kewibawaan kepemimpinan di mata para pengikutnya.

Tetapi kita harus ingat pula ada pepatah yang berbunyi, “semakin tinggi pohon, semakin tinggi tiupan anginnya” – semakin tinggi posisi seorang semakin kencang hantaman tantangan, goncangan dan godaan. Tak terlepas siapapun dia – selama dia seorang manusia. Tak peduli dia seorang presiden, pastor, pendeta, ulama, dosen, guru dan singkat kata semua makhluk yang bernama manusia.


Pada kebanyakan tulisan atau ulasan, 3 hal yang menyebabkan seseorang pria (terutama para pemimpin) jatuh, yaitu kekuasaan (power), uang (money) dan wanita (woman). Atau, orang menggunakan istilah tahta, harta, dan wanita (3TA).

Ketika seorang lelaki memiliki kekuasaan atau tahta, memiliki kecenderungan untuk bertindak seenaknya, otoriter, bahkan menyimpang – ia bisa melakukan apa saja karena dasarnya ia memiliki kuasa atas yang lainnya – kuasa terhadap benda hidup dan mati.

Kala seseorang pria memiliki harta (uang) yang banyak, ia dapat membeli atau menukar dengan apa saja yang diinginkannya. Bahkan ia sendiri pun hilang kebijaksanaannya untuk mengelola dan memanfaatkan harta tersebut.

Pada waktu seorang lelaki memiliki power dan money, orang itu mulai menggoda atau tergoda dengan woman.

 Penulis tidak bermaksud mengatakan bahwa wanita adalah makhluk penggoda. Banyak pula wanita jatuh karena lelaki. Tapi, fakta, kecenderungan lelaki yang memiliki kekuasaan dan uang – karena ia tidak mampu mengelolanya secara bijak, maka pelampiasannya pada wanita – memiliki istri sah dan simpanannya yang banyak.

Memang sedikit sulit untuk menulis fenomena ini. Tapi ini realitas bahwa lelaki yang memiliki kekuasaan dan ataupun memiliki harta yang banyak mudah jatuh atau lemah terhadap kaum hawa. Sebabnya bukan kaum hawa, tetapi kaum adamnya.

Terhadap kasus HR, mungkin uang dan kekuasaan mungkin bukan menjadi alasan ia jatuh dalam jebakan “chat mesum”. Karena menilik kehidupan pribadinya, ya katanya, sangat taat pada kaul kemiskinan. Hidup sederhana. Buktinya pakaianya itu-itu saja. Saya juga bisa salah menilai. Karena kehidupan di balik panggung publik, siapa yang tahu.

Saya cenderung memandang pada faktor kepimpinan HR yang karismatik. Wajar dong, seorang ulama dengan pengetahuan agama segudang lalu dicintai lawan jenisnya. Dengan lugas, wajar Firza Husein kepincut pada HR, mencintainya dan melakukan apapun kepada sosok yang dicintainya. Bukankah cinta itu perlu totalitas? Meskipun ia harus melewati jurang yang terjal karena sang idola telah memiliki istri, tokoh panutan dan sebagainya. Namanya, hasrat asrama, jika sudah sampai di ubun-ubun apapun dan bagaimanapun cara dilakukan. Tak peduli siapa orang yang dicintai. Apapun resikonya nanti.

Untuk membuktikan tesis saya bahwa HR tidak (mungkin)  salah – sengaja kata mungkin dalam kurung, hanya satu saja caranya; HR pulang ke Indonesia dan hadapi tuduhan dan tuntutan terhadap kasus yang menjeratnya. Ia harus membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berkata benar, bertindak benar. Kata dan perbuatannya sejalan.

Seorang pemimpin – apapun organisasinya – apalagi tokoh agama sejatinya harus lebih berani seperti adanya ia turun di jalan dan berbicara mengatasnamakan Tuhan.

Tesis saya bahwa HR tidak (mungkin) salah, sama seperti keyakinan saya bahwa penegak hukum (mungkin) salah menyasar kepada HR. Apakah mungkin yang mulia HR bertindak sebodoh itu? Apakah mungkin seorang HR punya waktu buka Android daripada membaca ayat-ayat suci?

Serba ketidakmungkinan ini, satu pembuktian dan langkah pasti HR harus menghadapi pengadilan hukum – bukan pengadilan media. Bukan menebar pembelaan diri melalui kaki tangannya di berbagai media. Hadapilah pengadilan, niscaya HR akan bebas jika tuduhan itu tidak terbukti. Lantas, mengapa HR ngumpet  di Arab Saudi?

Sebagaimana seruan profetis HR di jalan dan tempat ibadah selama ini telah menjadi inspirasi bagi orang lain yang tidak seiman dengannya. Karena mengidola seseorang melampui sekat pembatas perbedaan keyakinan agama atau apapun. Mengidola, ya mengidola. Karena setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. HR salah satunya.

Masyarakat Indonesia sedang menanti kepulangan HR ke ke Indonesia. Kepulanganya akan mengakhiri pengadilan media dan memulai babak baru pengadilan hukum. Inilah momentum HR dan pendukungnya untuk menggugurkan tuduhan selama ini.  Bukankah itu lebih terhormat dan mulia daripada pasang status dan foto di facebook atau media online? Ini soal akhlak, seperti yang digaungkan HR selama ini.  Damai Indonesiaku.



0 Response to "Habib Rizieq Pulang Indonesia: Mengakhiri Pengadilan Media dan Memulai Babak Baru Pengadilan Hukum"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus