Dilarang Polisi dan Istiqlal, Rizieq Telpon Laskar dari Arab, Tetap Ikut Aksi Bela Ulama, Melawan? Tangkap!


LINTAS FAKTA
- Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan melarang aksi bela ulama yang digagas sekelompok orang pada hari esok, Jumat 9 Mei 2017. Menurutnya lebih baik pada bulan Ramadhan ini masyarakat lebih banyak berzikir dan melakukan ibadah yang menyejukkan, yakni tadarusan dan banyak berdoa.

Iriawan mengatakan sejauh ini pihaknya belum menerima surat mengenai pelaksanaan aksi bela ulama tersebut. Berdasarkan poster yang disebarkan via media sosial, aksi yang digagas oleh para Alumni Aksi 212 akan diselenggarakan di Masjid Istiqlal. Aksi itu meliputi beberapa kegiatan untuk membela ulama dan aktivis.

Mungkin lebih tepatnya membela Rizieq yang sedang tersangkut kasus sex chat dengan Firza dan Amien Rais yang dianggap aktivis 98 yang dizalimi oleh KPK. Saya pun tidak habis pikir, mengapa para laskar begitu tidak sadar dan dibutakan, bahwa selama ini yang mereka bela adalah orang-orang yang terjerat dengan murni kasus hukum.

Pihak Masjid Istiqlal pun menyampaikan kepada pihak kepolisian tak memberikan izin untuk melaksanakan kegiatan ini. Bayangkan saja, pihak Masjid Istiqlal pun tidak memberikan toleransi terhadap aksi bela (katanya) ulama ini. Mungkin hal ini dilakukan, karena memang tidak ada tujuan baik yang diperoleh dari hal ini.

Dengan demikian, kita pun sadar betul bahwa aksi bela ulama ini tidak membawa dampak positif bagi agama Islam, maupun keutuhan negara. Mereka bukan membela ulama ataupun aktivis, namun rasanya mereka hanya membela RIzieq dan Amien Rais.

Setelah pihak kepolisian dan Masjid Istiqlal tidak mengizinkan aksi tersebut, rasanya tidak tahan bagi Rizieq untuk tetap diam dan bersembunyi di dalam ketakutannya di Arab. Akhirnya larangan ini membuat Rizieq terpaksa menelepon dari Arab dengan sambungan internasional, entah siapa yang membiayai pembicaraan selama kira-kira 10 menit ini. Menjelang waktu berbuka, Rizieq menelepon dari Arab Saudi, dan disambungkan ke speaker besar di tempat para laskar sedang berbuka puasa.

Entah selama seharian apa yang mereka sudah lakukan di dalam menjalankan ibadah puasa. Jemaah yang datang pun menyimak dengan baik dan antusias akan telepon Rizieq. Ada yang sampai merekam, dan juga mendengarkan dengan teliti.

“Saya ucapkan terima kasih kepada para habaib, kepada para ulama, kepada para tokoh. Dan saya berharap aksi bela ulama ke depan tetap kita ikuti,” kata Habib Rizieq melalui sambungan telepon yang dikoneksikan ke pengeras suara, di DPP FPI, Kamis (8/6/2017).

Satu hal yang menjadi permasalahan yang saya temukan, dengan mental apa Rizieq tetap mengharapkan aksi bela ulama berjalan besok, sedangkan ia pun lari dari masalah? Saya melihat ini jelas-jelas berkait erat dengan masalah kepemimpinan yang cacat dari seorang yang dianggap Habib. Pemimpin yang baik, seharusnya memberi contoh, bukan menyuruh-nyuruh pengikutnya.

Banyak yang menyetarakan sosok Rizieq dengan Diponegoro (baca: DPO Negoro). Namun rasanya di dalam peperangan Diponegoro, tidak ada komandan yang berdiri di belakang. Maka lucu sekali ada orang-orang yang menganggap Rizieq ini seperti komandan perang. Bahkan jika pemimpin bermasalah, mereka akan dengan jantan melakukan klarifikasi dan menjelaskan duduk perkara. Lah ini?

Maka jangan heran jika banyak orang yang memprediksi bahwa aksi-aksi bela (katanya) Islam dan ulama, menjadi sebuah tren yang semakin tidak favorit dan diprediksi sepi. Para laskar pun lama-kelamaan sadar, bahwa pemimpinnya sudah lari dari kenyataan, dan jelas-jelas tidak patuh terhadap negara.

Dengan kelakuan Rizieq sendiri, seharusnya para pengikutnya yang masih ‘sehat’, diharapkan cepat-cepat sadar. Pemimpinnya sudah jelas-jelas tidak berada di depan, melainkan di belakang dan tidak berani memenuhi panggilan kepolisian. Padahal hanya untuk mempertanggungjawabkan setiap kelakuan yang dituduhkan kepadanya. Jika memang Rizieq tidak bersalah, mengapa ia tidak berani datang, malah melempar isu kriminalisasi ulama? Larangan polisi dan bahkan Istiqlal dilawan oleh Rizieq. Memang orang ini harus ditangkap!

MUI sudah menyarankan Rizieq untuk pulang dan memenuhi panggilan polisi, mengapa GNPF MUI tidak mendukung hal ini? Apakah dengan demikian nama GNPF MUI harus diubah menjadi GNPRSAR? Yang artinya Gerakan Nasional Pembela Rizieq Shihab dan Amien Rais?

Betul kan yang saya katakan?


0 Response to "Dilarang Polisi dan Istiqlal, Rizieq Telpon Laskar dari Arab, Tetap Ikut Aksi Bela Ulama, Melawan? Tangkap!"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus