Kapitra: Rizieq Marah Besar Atas Status Tersangka “Harusnya Orang Yang Nyebarin Chat Yang Dihukum!”, Maksudmu “Buni Yani”?


LINTAS FAKTA
- Sepertinya Kapitra Ampera sudah kehabisan akal dan cara untuk menyelamatkan sang Imam Besar dari kasus yang menjeratnya sebagai pemeran utama dari cerita “Balada Cinta Rizieq”. Semua omongannya jadi ngasal sekarang.

Rizieq Shihab dikabarkan marah mendengar dirinya ditetapkan menjadi tersangka kasus Balada Cinta ini dan seperti sudah menjadi kebiasaannya bahwa dia tidak boleh menjadi pihak yang salah, dia mengancam akan melakukan perlawan hukum dan politik.

Apa yang saya lihat, untuk perlawan hukum, dari sejak dia berniat untuk kabur jauh hari sebelum penetapan dirinya menjadi tersangka, ini sudah jalas adalah tindakan melawan hukum. Apalagi dia sudah mendapatkan surat panggilan dari kepolisian.

Untuk perlawan politik, saya melihat dia selalu berpolitik dari sejak dia menviralkan sanggahan bahwa kasus ini adalah sebuah fitnah sampai pernyataan dia yang mengatakan hanya akan kembali ke Indonesia jika Presiden Jokowi sudah lengser.

Ada beberapa persamaan sikap dari dua kejadian yang berbeda yaitu kasus penistaan agama dan kasus balada cinta.

Persamaan pertama adalah ketika Pendukung Ahok dan Jaksa Penutuntut Umum mengatakan bahwa “Yang menyebarkan video editan dengan penghilangan kata “Pakai” itu yang harus diusut dan dituntut. Saat itu Rizieq Shihab membela Buni Yani, kan? Dan malah Buni Yani diangkat sebagai Pahlawan.

Sementara di kasus Rizieq Shihab, si Pengacara yang otomatis adalah pihak Rizieq Shihab sendiri yang menyatakan dengab mengatakan “PENYIDIK HARUS MELAKUKAN PROSES HUKUM JUSTRU PADA ORANG YANG MENYEBARKAN chat sex itu”. Saya mengartikan dari kalimat diatas bahwa bukan Rizieq Shihab yang harus diusut.

Kapitra mengatakan bahwa sampai hari ini konten yang menjadi permasalahan itu masih debatable. Aneh, perkataan dia ini adalah bentuk pelecehan terhadap Firza Husein sebagai korban dari apa yang Rizieq sudah lakukan. Bagaimana dia masih bisa bilang debatable ketika pihak Firza dan Kak Emma sudah mengakui bahwa konten yang diajukan sebagai bukti adalah nyata dan benar.

Coba kalau dulu hal yang sama diterapkan pada kasus Ahok dan pihak FPI dan GNPF-MUI mempunyai sikap seperti itu, saya yakin hukum akan memperlakukan hal yang sama pada kasus Rizieq Shihab.

Tapi ya Pak Kapitra, di kasus Ariel Peterpan dulu yang menyebarkan video koleksi “pribadi” secara sengaja dihukum TAPI Ariel Juga dihukum. Malah umat FPI yang paling rajin mendemo dia. Pak Kapitra sekarang sudah punya dua contoh nyata dan sudah terjadi. Kan jadinya Bapak sebagai seorang Pengacara terlihat sekali berdalih bodohnya.

Persamaan kedua adalah tentang pernyata Pak Kapitra tentang penggunaan pasal yang dikenakan untuk menjerat Rizieq Shihab tidak jelas.

Kasus Penistaan Agama juga dulu tetap diteruskan proses hukumnya malah sampai 21 kali proses persidangan WALAUPUN saat itu ramai-ramai diterikan oleh berbagai kalangan bahwa pasal yang dikenakan tidak jelas.

Dalih-dalih yang Kapitra Ampera sampaikan persis seperti dalih -dalih yang disampaikan oleh pendukung ahok, Tim Pembela Ahok bahkan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum, tapi semua dalih itu terpatahkan oleh tekanan massa yang Rizieq Shihab undang ke Jakarta.

Bahkan vonis hukuman penjara atas diri Ahok dilakuka  karena semua tekanan yang Rizieq Shihab lakukan.

Masya Allah, tidakkah Rizieq Shihab melihat betapa Tuhan Maha Adil? Semua yang dilakukan dan dikatakan pihak Rizieq Shihab untuk memenjarakan Ahok dibalikkan dengan mudahlah oleh Tuhan melalui perkataan pihak Rizieq shihab sendiri.

Tidak ada demi ribuan bahkan jutaan massa di Jakarta yang menuntut supaya Rizieq Shihab segera di seret ke pengadilan. Penetapan status tersangka dilakukan atas dasar bukti-bukti yang ada. Sementara kasus Ahok, penetapan status tersangka pada Ahok bahkan diputuskan kewat voting dan perbedaan pendapat.

Membela boleh tapi jangan terlihat bodoh. Kapitra Ampera mengatakan bahwa telah terjadi tirani penegakan hukum indikasinya adalah bahwa Rizieq Shihab harus menjadi tersangka lalu ditahan. Ini menjadi persamaan ketiga karena hal yabg serupa pula yang diberlakukan bagi Ahok.

Pada kasus Ahok sudah jelas terjadi tirani penegakan hukum dan karena ini pula banyak pihak di indonesia bahkan pihak dari luar negeri  sudah tergerak untuk membebaskan Ahok dari tirani penegakan hukum ini. Padahal kita semua tahu, Ahok sendiri malah membatalkan pengajuan bandingnya.

Persamaan keempat adalah pernyataan tentang konten dari yang disangkakan penyidik kepada Ahok dan masih bisa diperdebatkan. Ini dalih keempat yang Kapitra. Karena di kasus Ahok pun konten dari surat Al Maidah ayat 51 itu juga debatable tentang kata auliya. Tapikan GNPF -MUI yg sekaligus adalah FPI tidak mau menerima dalih itu.

Masya Allah, saya tidak bisa berhenti beristigfar bagaimana Allah membalikkan perlakuan dzolim yang pernah rizieq lakukan pada Ahok dikembalikan pada dirinya dengan kasus yang jauh lebih hina.

Kalau Ahok terkena kasus dugaan penghinaan agama. Kalau Rizieq Shihab terkena kasus yang sangat hina.



0 Response to "Kapitra: Rizieq Marah Besar Atas Status Tersangka “Harusnya Orang Yang Nyebarin Chat Yang Dihukum!”, Maksudmu “Buni Yani”?"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus