Habib Rizieq Resmi Jadi Tersangka Kasus “Chat Sex”. FPI Bakal Seruduk Mapolda Metro Jaya?


LINTAS FAKTA
- “Pucuk dicinta, ulam pun tiba”. Akhirnya datang juga kesempatan itu, di sore hari yang mendung ini, Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menetapkan pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, sebagai tersangka dalam kasus chat Whatsapp berkonten pornografi yang diduga melibatkan dirinya dengan Firza Husein.

Hal ini dibenarkan oleh Kombes Wahyu Hadiningrat, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Wahyu Hadiningrat. Bersamaan dengan penetapan status Rizieq, hari ini penyidik menyerahkan berkas perkara Firza dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Beberapa waktu sebelumnya, polisi telah menetapkan Firza Husein (FH) sebagai tersangka. Hal ini disebabkan oleh karena hasil analisis ahli pidana menyebutkan bahwa kasus ini telah memenuhi unsur pidana. Sementara ahli telematika menyampaikan bahwa percakapan yang diduga terjadi antara Firza dan Rizieq itu adalah asli.

Berubahnya status Habib Rizieq ini setidaknya menjawab berbagai keraguan akan penegakan hukum di Indonesia. Perubahan status pada Rizieq yang baru saja ditetapkan ini tentu memulihkan sedikit kepercayaan publik. Tentu baru sedikit, sebab kita belum bisa memprediksi proses hukum lanjutan akan berlangsung seperti apa.

Ketidakpercayaan publik terhadap penegakan hukum ini bisa melahirkan pembangkangan terhadap negara. Apalagi bila membandingkannya dengan kasus Ahok. Ahok selalu patuh pada proses hukum. Tak pernah sekalipun alpa dalam persidangan yang digelar 22 kali. Kendati hasil akhir persidangan sangat mengecewakan. Harapan akan hakim yang bebas dari tekanan massa dalam membuat putusan berakhir kecewa.

Membandingkan kasus Ahok dengan kasus Rizieq memang tidak tepat. Terlebih bila ditinjau dari substansi kasusnya. Saya hanya membandingkan keduanya dalam konteks kepatuhan pada proses hukum.

Habib Rizieq telah dilaporkan pada banyak kasus. Tetapi entah bagaimana, kasus-kasus yang dilaporkan seolah menguap begitu saja. Yang belakangan terekam di media adalah pengembalian berkas soal Pelecehan Pancasila yang dilaporkaan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Pun kasus dugaan Penodaan Agama oleh PMKRI tak jelas proses penyelesaiannya.

Kondisi yang demikian, melahirkan aksi main hakim sendiri. Saya khawatir bila elemen masyarakat lain mulai bersikap keras soal ormas yang satu ini. Memang penolakan tidak hanya ditujukan pada FPI an sich, melainkan terhadap pendukung gerakan ormas ini.

Lihat saja, penolakan Tengku Zulkarnain, wakil ketua MUI, di Sintang, Kalimantan Timur. Juga penolakan Fahri Hamzah di Manado, Sulawesi Utara. Meski Fahri bukan elemen dari FPI, tetapi dalam sepak terjangnya dipandang ikut mendukung gerakan ormas ini. Penolakan terhadap keduanya membesar karena ada desas desus bahwa ada oknum FPI yang ikut serta dalam rombongan mereka.

Ke depannya, prediksi saya, fenomena semacam ini akan terus meluas ke seluruh nusantara. Memang kalau ditelusuri jejak sejarahnya, FPI yang dulunya bernama Pam Swakarsa ini dibentuk oleh beberapa oknum Perwira Polisi dan TNI. (Sumber). Tetapi pasca Orde Baru, FPI mulai dijadikan ‘attack dog’ oleh oknum tertentu maupun pemerintahan sebelumnya. (Sumber).

Era Reformasi yang demokratis menjadikan kehadiran ormas ini semacam anti-tesis. Kontra produktif. Meski demikian, mereka tak kunjung dibubarkan. Jangankan dibubarkan, ormas ini justru laris manis di lapangan politik praktis. Mereka bisa dimanfaatkan oleh kelompok politik yang berkepentingan.

Sepak terjang ormas ini dari sejak lahir pada 1998 hingga hari ini menyisakan berbagai kontroversial. Bahkan tercatat bahwa beberapa pentolannya sudah mengalami dinginnya lantai penjara. Jika meminjam istilah Alan Nairm, ormas ini disebut sebagai preman berbungkus agama.

Belum pernah ada pejabat negara yang dengan tegas menyerukan pembubaran ormas ini secara serius selain Ahok. Ahok bahkan bersurat ke Kemendagri dan Kemenkumhan untuk membubarkan ormas ini. Maka kemudian menjadi tidak aneh jika kebencian mereka terhadap Ahok tidak terhingga.

Dengan status baru yang melekat pada Rizieq sebagai tersangka, setidaknya Polisi sudah punya posisi yang jelas untuk membekuknya dari Arab Saudi. Perkara dia akan mengajukan pra peradilan atau upaya hukum lain, itu lain soal. Yang terpenting sekarang adalah Ia diharuskan duduk di dalam persidangan sebagai pesakitan.

Melihat sepak terjang FPI yang penuh kekerasan dan kontroversial ini, apakah kali ini mereka akan menyeruduk Mapolda Metro Jaya atas keputusannya mentersangkakan Paduka Tuan Habib Rizieq? Kita lihat saja nanti. Meskipun catatan sejarah membuktikan bahwa FPI dilahirkan oleh oknum perwira TNI dan Polri, tetapi situasi hari ini sudah berubah. Loyalitasnya sudah berubah, Ia sudah memiliki banyak tuan hari ini.



0 Response to "Habib Rizieq Resmi Jadi Tersangka Kasus “Chat Sex”. FPI Bakal Seruduk Mapolda Metro Jaya?"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus