Anak-Anak Teriak “Bunuh Ahok”, Bibit Radikal Telah Dipupuk Sejak Dini. Pemerintah Harus Tegas


FAKTA TERBARU
- Fenomena Jaringan radikalisme dan Terorisme tidak dapat dipungkiri tengah melanda seluruh penjuru bumi. Gerakan yang mengatasnamakan agama untuk menghabisi sesamanya manusia sedang booming dan gencar berlangsung di berbagai negara. Jaringan yang paling terkenal beringas saat ini adalah ISIS.

Kepanjangan ISIS adalah Islamic State of Iraq and Syria. Sebuah organisasi baru di Timur Tengah yang mendeklarasikan menjadi sebuah negara. Sudah hampir semua warga negara bergabung di ISIS, termasuk Indonesia.

Fenomena gerombolan katanya pejuang agama ini tengah meluluhlantakkan beberapa negara-negara di timur tengah yang notabene adalah negara islam. Tindakan para gerilyawan terorisme ini telah menghabisi nyawa yang tidak dapat dihitung lagi ditambah kerugian materil yang saya yakin sudah tidak ada yang mampu mencatat kerugian totalnya.

Dampak paling mengkhawatirkan dan pemulihannya memerlukan waktu lama adalah tekanan psikologis yang akan dirasakan oleh mereka yang menjadi korban atas tindakan-tindakan radikal dan terorisme. Para korban yang paling terdampak adalah kalangan anak-anak yang kehilangan kebahagian, keluarga, dan kehidupan yang layak.

Terpaksa oleh karena kejadian ini anak-anak yang selamat tersebut harus berjuang melangsungkan hidup di penampungan yang berada jauh dari negara asalnya yang telah hancur lebur.

Masa depan anak-anak tersebut pasti akan cerah jika tidak timbul perang antara kelompok terorisme dengan pihak anti terorisme. Negara mereka kaya raya dengan ladang minyak yang melimpah pasti dapat memberikan kehidupan sejahtera.

Apa yang hendak dikata betapa gampangnya kaum sumbu pendek di bumi ini diperdaya oleh doktrin yang menyesatkan sehingga mau bergabung dengan pihak teroris dan radikal.

Alih-alih atas nama agama padahal jelas tampak dengan mata telanjang bahwa perang yang terjadi tersebut adalah tentang ekonomi. Perebutan ladang minyak yang besar-besaran di negara terdampak di wilayah kawasan timur tengah. Perebutan tersebut dilakukan dengan perang yang brutal sehingga timbul saling bunuh.

Menurut hemat saya perang perebutan ladang minyak ini pasti ada yang mendukung secara moral dan finansial terhadap kelompok terorisme karena tampak di semua media mereka memiliki peralatan persenjataan untuk perang yang sangat modern dan mumpuni.

Semua itu pasti didapatkan dengan kucuran dana yang tidak tidak sedikit. Pengeluaran yang besar telah dihabiskan untuk peralatan perang, operasional dan gaji gerilyawan teror. Tidak mungkinkan itu semua jatuh dari langit pasti ada yang memberikan modal dana dan doktrin sesat agar para kaum sumbu pendek yang telah bergabung semakin semangat berjuang dan merelakan nyawanya hilang sia-sia untuk memperkaya mereka yang bermain dibelakang layar.

Indonesia Telah Diserang Doktrin Sesat Radikalisme dan Terorisme

Gerakan dari kelompok radikal dan teror ini bukan hal yang baru terjadi di negara persada Indonesia. Sudah sejak lama para peneror ini terlahir dengan nama kelompok yang berbeda-beda tetapi berkedok ingin membangun negara atas nama agama tertentu.

Padahal sudah jelas dan tegas para pendiri bangsa ini menyatakan Indonesia berideologi Pancasila bukan atas nama agama tertentu. Didalam ideologi Pancasila telah mengakomodir setiap saran dan masukan dari berbagai unsur SARA yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Cikal bakal gerakan radikalisme dan terorisme telah tampak jelas dan nyata melalui tindakan intoleransi yang tidak menghargai lagi perbedaan yang ada antar sesama rakyat Indonesia. Kaum intoleran telah blak-blakan menghujat dan menghakimi kelompok yang berbeda dengan kelompok mereka.

Gerakan Intoleransi ini jelas tampak ketika seorang dari kaum minoritas memimpin Ibukota NKRI yakni DKI. Jakarta. Kelompok-kelompok yang anti akan perbedaan dan keberagaman dengan lantangnya menyuarakan tidak mengizinkan Ahok gubernur DKI. Jakarta dari kalangan minoritas yang saat ini telah mengundurkan diri dari jabatannya karena menjalani proses hukum terkait kasus penodaan agama.

Ahok harus menjalani proses hukum yang telah divonis oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara selama 2 tahun. Hak banding yang sempat ingin dipergunakan Ahok akhirnya dibatalkan karena pertimbangan keluarga bersama Ahok pribadi.

Dengan Vonis Ahok tersebut menuai banyak dukungan moral baik dari dalam negeri maupun sampai ke seluruh penjuru bumi. Mulai dukungan dengan memberikan papan bunga, Balon merah putih, tumbuhan dalam pot, kursi roda, tumpeng, paduan suara, dan gerakan 1000 lilin diseluruh penjuru bumi.

Dukungan moral dan semangat dari pecinta kedamaian dan toleransi jelas telah membuat para kelompok sumbu pendek bumi datar yang tidak menghargai perbedaan bagaikan kebakaran jenggot.

Kelompok anti Ahok merespon banyaknya dukungan terhadap Ahok yang sering dibullying dengan kata-kata Aseng, Non Pribumi dan paling menyedihkan Kafir. Kelompok anti Ahok melakukan aksi-aksi tandingan yang terkesan meniru apa yang dilakukan oleh Ahoker pencinta toleransi. Mereka melakukan aksi pawai obor dari mulai kalangan usia dewasa sampai anak-anak.

Pawai obor yang dilaksanakan lumrah dan tidak bermasalah jika berjalan sesuai etika dan tidak menghujat. Tetapi fakta di lapangan telah terjadi aksi pawai obor tersebut menyelipkan kata-kata hujatan dan penghinaan terhadap Ahok yang memang telah pasrah menjadi martir kebhinekaan negara ini.

Teriakan hujatan dan penghinaan itu dilakukan oleh anak-anak yang jelas tidak mengerti apa yang telah diucapkannya. Sudah dapat dipastikan teriakan “bunuh Ahok” atas suruhan dan doktrin sesat dari orang dewasa yang bertujuan merusak moral dan memupuk jiwa intoleransi di benak anak-anak tersebut.

Berikut petikan berita dari www.cnnindonesia.com tentang teriakan bunuh Ahok saat pawai obor :

Sebuah video viral di media sosial yang merekam gambar anak-anak berpawai sembari berteriak dengan kalimat yang mengandung kekerasan. Anak-anak yang berpakaian putih secara berkelompok itu berteriak ‘bunuh si Ahok sekarang juga’.

Ahok, nama populer Basuki Tjahaja Purnama, merupakan terdakwa kasus penodaan agama yang saat ini menjalani hukuman dua tahun penjara.

Video diduga diambil saat pawai menyambut bulan Ramadan di sekitar kawasan Jakarta, Rabu (24/5). Dalam video yang diambil saat malam hari itu tampak anak-anak dan orang dewasa berpakaian serba putih berpawai sembari membawa bendera dan obor.

Sangat menyedihkan sahabat seword sedunia, para kaum sumbu pendek bumi datar telah menebarkan radikalisme dan mengajarkan ujaran kebencian kedalam pikiran anak-anak yang masih suci dan putih tak bercelah.

Meskipun lokasi tidak diketahui jelas terjadi dimana video ujaran kebencian ini dibuat tetapi kegiatan pawai obor diiringi teriakan “bunuh si Ahok sekarang juga” yang dilakukan anak-anak sudah membuktikan bahwa Indonesia telah darurat Intoleransi dan ujaran kebencian.

Kejadian yang paling tragis dan menyedihkan Selain ujaran kebencian tentang Ahok diatas adalah anak-anak telah berani secara blak-blakan mengatakan kepada teman-temannya yang berbeda secara agama dengan kata-kata kafir yang jelas akan menyakitkan siapapun yang menjadi korban penghinaan.

Padahal dalam perundang-undangan yang berlaku di Indonesia tidak ada istilah kafir yang bisa dinyatakan terhadap agama apapun yang telah diakui di Negara ini. Agama-agama yang diakui negara kita Indonesia adalah Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.

Berikut penjelasan dari Komnas Perlindungan Anak yang saya kutip dari www.cnnindonesia.com berikut ini :

Ketua Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan kekhawatirannya atas disebarkannya benih-benih kebencian berdasarkan aspek keagamaan yang menjamah anak-anak usia dini.

Arist mengatakan di beberapa daerah muncul fenomena anak-anak mengolok temannya yang berbeda agama dengan sebutan kafir.

“Kasusnya sama seperti bullying, tetapi kini verbalnya didasari identitas keagaaman. Itu mengkhawatirkan sekali,” kata Arist, Jumat (12/5).

Selain mengolok teman, Arist menemukan fenomena anak-anak yang mempersoalkan identitas kafir. Dia mengatakan Komnas PA pernah mendapat aduan dari guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengajak murid-muridnya mengunjungi suatu mal.

“Mestinya kan muncul pertanyaan, mal itu apa gunanya. Tapi ada pertanyaan, itu malnya orang kafir atau bukan? Yang punya seagama atau tidak? Itu kan mengerikan,” tutur Arist.

Arist menyatakan kaget bukan kepalang saat mendapat laporan tersebut. Dia tidak menyangka bahwa benih kebencian yang bernuansa agama sudah mengontaminasi anak usia dini. Fenomena ini, kata Aris, terjadi di hampir semua provinsi.

Melihat kasus-kasus yang terjadi beberapa waktu belakangan ini saya selaku warga negara Indonesia yang telah membayar pajak walaupun belum memiliki KTP Elektronik berharap supaya Pemerintah, Yudikatif bersama-sama dengan Legislatif selaku pembuat Undang-Undang perlu memberikan tindakan tegas dan membuat regulasi yang mengatur sanksi keras bagi siapapun yang menyampaikan ujaran kebencian dengan menyatakan salah satu agama adalah kafir.

Setiap agama mengajarkan tentang berketuhanan yang maha Esa sesuai dengan sila pertama dalam ideologi Pancasila yakni Ketuhanan yang Maha Esa.

Sudah jelas setiap agama tidak ada yang bisa dicap dengan kata-kata penghinaan dan ujaran kebencian seperti Kafir.

Setiap Individu rakyat Indonesia mempunyai hak asasi untuk tidak dihina, tidak dicaci maki dan juga tidak dibullying secara verbail terkait agama.

Sepakat dengan tulisan saya ini segera share dan viralkan supaya saudara-saudara kita yang lainnya tidak terpengaruh oleh bujuk rayu setan berwujud manusia bertopengkan agama.

Bersihkan paham radikalisme dan terorisme dari generasi penerus bangsa Indonesia yang kita cintai bersama.

#SaveIndonesia

#KamiTidakTakut

Merdeka

Sumber :

http://m.cnnindonesia.com/nasional/20170525183615-20-217312/video-viral-media-sosial-anak-anak-berteriak-bunuh-si-ahok/ 



0 Response to "Anak-Anak Teriak “Bunuh Ahok”, Bibit Radikal Telah Dipupuk Sejak Dini. Pemerintah Harus Tegas"

Posting Komentar

Kalau Ingin Berkomentar!!!
-Mohon berkomentar sesuai dengan topik
-Dilarang Nyepam
-Link Hidup Langsung Dihapus